KEBERSAMAAN
Asal
kata kebersamaan adalah ‘sama, bersama’. Sama artinya seragam, sedangkan
‘bersama’ berarti ‘tidak sendiri’. Kebersamaan yang dimaksudkan disini adalah
melaksanakan suatu kegiatan atau aktivitas secara bersama (lebih dari satu
orang), misalnya : beribadah bersama, bernyanyi bersama, berjalan bersama,
menonton bersama, dan lain-lain.
Beberapa
alasan mengapa orang ingin melakukan sesuatu secara bersama yakni, (1) berkumpulnya
beragam ide, (2) dalam suasana yang baik umumnya memiliki kecenderungan saling
mendukung satu dengan yang lain, (3) beberapa hal menjadi ringan dalam
kebersamaan, (4) memiliki daya dorong yang kuat dalam beberapa hal, dll.
Kebersamaan
yang baik adalah kebersamaan yang terbentuk karena ‘kebutuhan’ (need) bukan
dipaksakan. Kebersamaan yang terbentuk karena kebutuhan biasanya lebih mudah
mencapai tujuan dibanding bila kebersamaan terbentuk karena dipaksakan, atau
memiliki hambatan yang cukup besar dalam upaya pencapaian tujuan.
Kebersamaan
yang baik bercirikan, (1) ada tenggang rasa, (2) ada kekompakan, (3) ada
kepentingan bersama, (4) dan umumnya sang pemimpin mengerti betul yang
dipimpinnya.
Hal-hal
kritis yang sering terdapat dalam kebersamaan biasanya, (1) mengorbankan
kepentingan pribadi dan mengedepankan kepentingan bersama, (2) selalu mengarah
pada kemajuan bersama bukan sebaliknya, (3) adanya arah yang jelas kemana
kebersamaan akan dibawa, (4) dibutuhkan proses untuk lebih memahami kebersamaan,
itu berarti diperlukan sejumlah waktu.
Ada
bahaya mengintip yang dapat merusak kebersamaan yaitu, (1) ingin menang
sendiri, (2) selalu berpikiran negatif terhadap sesama anggota dalam
kebersamaan, (3) tidak tepat waktu, (4) mudah mengobral janji tanpa komitmen
yang jelas, (5) komersialisasi kebersamaan, (6) saling menyalahkan, (7) saling
tuding, (8) pamer kekuatan, (9) ajang untuk mengembangkan issue yang negatif
(issue positif silahkan saja), dan (10) kebersamaan kadangkala membuahkan
‘motivasi’ sesaat, begitu kebersamaan berubah menjadi kesendirian, motivasi
akan turun lagi.
HAL
MENARIK DALAM KEBERSAMAAN
Umumnya,
yang membuat orang senang dalam kebersamaan adalah : (1) bertemu teman, (2) bertukar
pengalaman sehingga menambah wawasan, (3) dapat belajar mengerti orang lain,
(4) tidak merasa kesepian, (5) lebih termotivasi melakukan sesuatu karena (
harus jujur dikatakan) dalam kebersamaan, apa yang kita kerjakan bisa langsung
dinikmati/dinilai oleh orang lain, hal yang mungkin tidak kita dapatkan bila
dilakukan sendiri, (6) dan lain – lain.
Menyanyi
bersama tentu menarik daripada menyanyi sendirian. Melakukan Penelahan Alkitab
secara bersama pasti lebih menantang ketimbang melakukannya sendiri. Bersekutu
dalam doa dalam suasana kebersamaan sungguh dapat menghangatkan hati dan
perasaan. Mendengarkan penceramah berbicara tentunya akan lebih menyenangkan
bila yang hadir lebih dari satu orang.
MENGAJAK
ORANG LAIN
Ada
sebuah cara yang mungkin ‘tokcer’ dalam upaya membangun kebersamaan yakni
dengan tidak ragu atau merasa sungkan ‘mengajak’ orang lain bergabung dalam
kebersamaan. Seringkali orang tidak tahu ada suatu kebersamaan yang
menyenangkan karena ‘tidak diberi tahu’, tidak diajak, atau tidak dibari
kebersamaan untuk berpartisipasi.
Berikut
ini adalah sebuah contoh langkah-langkah dalam mengajak orang. Pertama, sapalah
orang dengan ramah. Lalu amati dengan cepat apa kira-kira yang menjadi
‘keinginan’ dan ‘kemampuan’ orang tersebut. Ini dirasa perlu karena, tidak
semua orang merasa ‘welcome’ di situasi yang masih baru dan asing baginya.
Kedua,
segera perkenalkan ‘calon anggota’ tadi kepada sebanyak mungkin orang yang kita
kenal. Konkritnya, bila kita mengenal kira-kira 40 (empat puluh) orang,
usahakanlah ‘kawan baru’ tadi mengenal 40 orang juga, misalnya 35 (tiga puluh
lima) orang. Dengan begitu, kita sudah mensosialisasikan ‘kawan baru’ kita
kepada orang banyak.
Ketiga,
ajak segera ‘kawan baru’ kita untuk melihat dari dekat berbagai aktifitas atau
kegiatan di ‘lingkungan baru’ tersebut.
Keempat,
beri kesempatan pada ‘kawan baru’ kita untuk bertanya sebanyak mungkin apa yang
dilihat dan dirasakan selama ‘orientasi’.
Kelima,
sekali waktu, kawan baru berpikir, seolahterlibat/berpartisipasi dalam kegiatan
atau aktifitas yang diperhatikannya (dipelajarinya).
Keenam,
secara tidak membabi buta tanyakan apakah kawan baru kita senang berada dalam
lingkungan baru yang baru dikenalnya. Jawaban yang mungkin didapat dari
pertanyaan tersebut sangat beragam.
Kemungkinan
jawaban yang kita terima adalah : (1) senang dan mau berpartisipasi, atau (2)
senang tetapi belum mau berpartisipasi karena berbagai alasan, atau (3) kurang
senang, tetapi ingin mencoba berpartisipasi, atau (4) kurang senang, dan tidak
mau berpartisipasi.
Apapun
jawaban yang kita terima, balaslah dengan senyuman atau kalimat yang simpatik.
Berupayalah menempatkan diri anda sebagai ‘calon anggota’. Bayangkan bila kita
juga menjadi orang baru dan diberi pertanyaan serupa. Memang, jawaban yang kita
harapkan adalah kawan baru kita akan menjawab : “saya senang dan bersedia
berpartisipasi”’ tetapi biloa jawaban lain yang muncul, jangan putus asa. Waktu
masih panjang. Beri kesempatan yang banyak bagi kawan baru kita untuk
memutuskan berpartisipasi sekarang atau di waktu lain (mendatang). Biarlah
waktu yang berbicara.
TINDAK
LANJUT
Dalam
berbagai kesempatan, sapa dan tegurlah ‘kawan baru’ kita. Jangan pernah bosan
menelpon, SMS (Short message service), email (bila memungkinkan), dan
lain-lain. Jangan terlihat ‘mendesak’. Sesuatu yang terlihat mendesak seolah
‘dipaksakan’. Sesuatu yang dipaksakan adalah tidak baik. Tetapi bila ada
momen/kegiatan menarik jangan lupa mengajak calon kawan baru.
Bila
memungkinkan, dan dirasa sudah cukup waktu, dan bila ada kegiatan-kegiatan coba
libatkan calon ‘kawan baru’ tadi duduk dalam tim kerja atau kepanitiaan, dll.
Tetap dampingi agar ‘kawan baru’ kita merasa ada tempat bertanya bila menemukan
sesuatu yang menyulitkan. Jawablah apa adanya. Bisa katakan bisa, tidak bisa
katakan tidak bisa.
BERDOALAH
Yang
penting dari semua. Berdoalah untuk ‘kawan baru’ kita. Sekalipun sang kawan
baru kita belum mau bergabung, tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5 : 17).
Roma
12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan
bertekunlah dalam doa!
Efesus
6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan
berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya
untuk segala orang Kudus,
Berikut
ini adalah oleh-oleh dari sebuah perusahaan minyak nasional terkemuka di
indonesia. Dalam suatu presentasi di tengah pelatihan staf diungkapkan tentang
FILOSOFI ANGSA. Mari kita banyak-banyak belajar dari angsa yang terbang
beriringan.
BELAJAR DARI ANGSA

Fakta Angsa 1 :
Saat
setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan “daya dukung” bagi
burung yang terbang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang
terbang di belakang tidak perlu bersusah-payah untuk menembus dinding udara di
depannya. Dengan terbang dalam formasi “V” seluruh kawanan dapat menempuh jarak
terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.
Pelajaran
Angsa 1 :
Orang-orang
yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam
komunitas mereka, dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih
mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan
mendukung satu dengan yang lain.
Fakta Angsa 2 :
Kalau
seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan
sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi
untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya.
Pelajaran
Angsa 2 :
Kalau
kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam
formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan
dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan seorang
diri daripada melakukannya bersama-sama.
Fakta Angsa 3 :
Ketika
angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke
belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.
Pelajaran
Angsa 3 :
Adalah
masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara
bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya angsa, manusi saling
bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas dan memiliki
keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya.
Fakta Angsa 4 :
Angsa-angsa
yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang
untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan
terbang dapat dijaga.
Pelajaran
Angsa 4 :
Kita
harus memastikan bahwa kita akan memberikan keuatan. Dalam kelompok yang saling
menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung
(berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah
kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan
menguatkan dan bukan melemahkan.
Fakta Angsa 5 :
Ketika
seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua angsa lain akan
ikut keluar dari formasi bersama tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk
membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia
mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan
mereka sendiri atau dengan bentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.
Pelajaran
Angsa 5 :
Kalau
kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama
sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika
segalanya
Setiap fakta diatas secara
mengherankan menunjuk pada setiap unsur utama yang harus dimiliki sebuah tim
agar dapat terbang jauh melintasi pencapaian yang mampu dibayangkan dapat
dijangkau oleh perjuangan tunggal. Hasil luar biasa yang dipertontonkan alam sebagai
fenomena yang biasa. Ini adalah sebuah bukti bahwa hasil luar biasa dapat
diraih dengan cara biasa, cara yang disediakan alam sehari-hari, secara
alamiah.
Kita memang bukan angsa, sehingga tidak secara otomatis disediakan oleh Sang Pencipta naluri kerjasama sebagaimana para angsa itu, tetapi dibekali hak istimewa berupa akal untuk mempelajarinya dan budi untuk menetapkan pilihan terhadap penggunaan pengetahuan dari hasil pembelajaran itu.